x

Sulbar Bangga, Petani Milenial Sabet Gelar Peserta Terbaik Pelatihan Agribisnis Kemenperin RI

waktu baca 4 menit
Jumat, 24 Jul 2026 11:04 102 Redaksi

SINARSORE.ID, LUTIM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan generasi muda dari Sulawesi Barat (Sulbar). Peserta Petani Milenial Sulawesi Barat, berhasil meraih predikat Peserta Terbaik pada Pelatihan Agribisnis yang diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI) di Mars Cocoa Academy, Tarengge, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Pelatihan yang berlangsung selama 12 hari tersebut diikuti oleh perwakilan dari 12 provinsi di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor agribisnis melalui penguatan kompetensi teknis, kewirausahaan, serta pengembangan industri berbasis komoditas pertanian yang bernilai tambah.

Delegasi Sulbar mengirimkan empat peserta, yaitu Muhammad Fadly, Makmur, Misbahuddin, dan Muh. Fadhli. Selama mengikuti pelatihan, keempatnya memperoleh materi komprehensif mengenai pengembangan agribisnis modern, pengolahan hasil pertanian, manajemen usaha, pemasaran, peningkatan mutu produk, hingga strategi membangun rantai nilai industri kakao yang berdaya saing.

Keberhasilan Peserta Petani Milenial Sulbar menjadi peserta terbaik merupakan hasil dari penilaian menyeluruh terhadap disiplin, keaktifan dalam proses pembelajaran, kemampuan analisis, kepemimpinan, kerja sama tim, serta keberhasilannya mengimplementasikan materi yang diberikan selama pelatihan.

Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Sulbar sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda daerah mampu bersaing di tingkat nasional apabila memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kapasitas dan kompetensinya.

Muhammad Fadly perwakilan salah satu Peserta Pelatihan Agribisnis selaku Ketua Petani Milenial Sulbar mengatakan, penghargaan tersebut bukan hanya menjadi pencapaian pribadi, melainkan amanah untuk terus berkontribusi dalam membangun sektor pertanian di daerah.

“Penghargaan yang persembahkan untuk seluruh petani, khususnya petani milenial Sulbar. Kami datang membawa nama daerah dan pulang membawa ilmu, pengalaman, serta semangat baru untuk membangun pertanian yang lebih maju. Ilmu yang kami peroleh harus kembali kepada masyarakat melalui pendampingan, pelatihan, dan inovasi di lapangan,” ujarnya.

Pelatihan yang difasilitasi Kementerian Perindustrian RI bekerjsama UNDP, Fast dan Mars Cocoa Academy membuka wawasan peserta mengenai pentingnya mengubah pola pikir petani dari sekadar menghasilkan komoditas menjadi pelaku agribisnis yang mampu menciptakan nilai tambah melalui pengolahan, pemasaran, dan pengembangan produk.

Selama mengikuti pelatihan di Mars Cocoa Academy, peserta tidak hanya menerima materi di dalam kelas, tetapi juga melakukan praktik lapangan mengenai target pemasaran atau market, proporsi nilai, kegiatan kunci, sumber daya kunci, mitra kunci, saluran pelanggan atau pemasaran, hubungan pelanggan, struktur biaya dan arus pendapatan, hingga strategi pengembangan industri kakao berbasis kebutuhan pasar dengan metode model bisnis Bisnis Model Canvas (BMC).

Bagi Sulbar yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi kakao nasional, pengetahuan tersebut dinilai sangat relevan dalam mendorong peningkatan kesejahteraan petani melalui pengembangan industri hilir.

Keikutsertaan empat petani muda dari Sulbar juga mencerminkan semakin besarnya peran generasi muda dalam pembangunan sektor pertanian. Mereka hadir tidak hanya sebagai peserta pelatihan, tetapi juga sebagai representasi semangat regenerasi petani Indonesia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan dinamika pasar.

Muhammad Fadly, salah satu peserta dari Sulbar, menilai pelatihan tersebut memberikan pengalaman yang sangat berharga karena mempertemukan peserta dari berbagai daerah dengan latar belakang pertanian yang berbeda.

“Selama dua belas hari kami belajar bersama, berdiskusi, bertukar pengalaman, dan melihat bagaimana potensi pertanian di berbagai daerah dapat dikembangkan menjadi usaha yang lebih modern dan bernilai ekonomi tinggi. Pengalaman ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi ketika kembali ke daerah,” katanya.

Selain memperoleh ilmu teknis, para peserta juga membangun jejaring nasional dengan petani muda dari berbagai provinsi. Jejaring tersebut diharapkan menjadi wadah kolaborasi dalam pengembangan agribisnis, pertukaran teknologi, hingga pemasaran produk pertanian di masa mendatang.

Prestasi sebagai peserta terbaik menjadi bukti bahwa kualitas sumber daya manusia pertanian dari Sulbar mampu bersaing di tingkat nasional. Capaian tersebut sekaligus memberikan optimisme bahwa regenerasi petani mulai menunjukkan hasil positif.

Dalam beberapa tahun terakhir, isu regenerasi petani menjadi perhatian serius pemerintah. Menurunnya jumlah petani muda menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan sektor pertanian nasional. Karena itu, berbagai program peningkatan kapasitas, pelatihan, dan pengembangan kewirausahaan terus didorong untuk menarik minat generasi muda terjun ke dunia pertanian.

Keberhasilan delegasi Sulbar di ajang pelatihan nasional ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi anak-anak muda lainnya agar tidak ragu menjadikan sektor pertanian sebagai pilihan karier sekaligus peluang usaha yang menjanjikan.

Pertanian saat ini bukan lagi identik dengan pekerjaan tradisional, melainkan telah berkembang menjadi sektor yang memanfaatkan teknologi, inovasi, digitalisasi, dan pengelolaan bisnis modern. Generasi muda memiliki peluang besar untuk menjadi motor penggerak transformasi tersebut. Bagi Petani Milenial Sulbar, penghargaan yang diraih bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menularkan ilmu kepada petani di daerah, memperkuat kelembagaan petani muda, serta mendorong lahirnya wirausaha agribisnis baru yang mampu meningkatkan daya saing komoditas lokal.

Keberhasilan empat delegasi Sulbar di Mars Cocoa Academy menjadi pesan bahwa investasi terbaik bagi sektor pertanian adalah investasi pada manusia. Ketika petani dibekali ilmu, teknologi, dan jejaring yang luas, mereka tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa dari kebun-kebun di Sulbar lahir generasi muda yang siap membawa pertanian Indonesia menuju masa depan yang lebih maju, modern, dan berkelanjutan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA
x