x

Biaya Produksi dan Operasional Naik, Petani hingga Tukang Bentor Merasakan Dampak Kurs Dolar

waktu baca 3 menit
Sabtu, 13 Jun 2026 16:44 189 Redaksi

SINARSORE.ID, MAMUJU – Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah dinilai memberikan dampak nyata bagi masyarakat kecil di Sulawesi Barat (Sulbar), khususnya petani, nelayan, dan tukang bentor. Meski aktivitas ekonomi sehari-hari menggunakan rupiah, banyak kebutuhan produksi dan operasional yang harga maupun pasokannya dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS.

Ketua Petani Milenial Sulbar sekaligus Dewan Pembina Komunitas Bentor Indonesia, Muhammad Fadly Jallai mengatakan, berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, kenaikan kurs dolar telah meningkatkan beban ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian, perikanan, dan transportasi rakyat.

Menurutnya, di sektor pertanian, kenaikan dolar berdampak pada meningkatnya harga berbagai kebutuhan produksi seperti pestisida, benih, pupuk tertentu, serta alat dan mesin pertanian yang sebagian besar masih bergantung pada komponen impor.

“Biaya produksi petani semakin meningkat, sementara harga jual hasil panen tidak selalu naik secara sebanding. Kondisi ini menyebabkan margin keuntungan petani semakin menipis dan berpengaruh terhadap daya beli keluarga petani,” ujar Fadly.

Di sektor perikanan, nelayan juga menghadapi tantangan serupa. Aktivitas melaut sangat bergantung pada bahan bakar minyak (BBM), peralatan tangkap, serta berbagai kebutuhan operasional lainnya yang harganya ikut terdorong naik ketika nilai dolar menguat.

Meskipun sebagian jenis BBM masih mendapatkan subsidi pemerintah, Fadly menilai kenaikan biaya operasional tetap dirasakan oleh nelayan. Di sisi lain, harga jual ikan di tingkat nelayan relatif tidak mengalami kenaikan yang signifikan.

“Ketika modal untuk melaut meningkat sementara harga ikan cenderung stabil, maka pendapatan nelayan berpotensi menurun. Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kesejahteraan keluarga pesisir,” katanya.

Dampak serupa juga dirasakan oleh para tukang bentor. Kenaikan dolar berpotensi mendorong kenaikan harga BBM, suku cadang kendaraan, ban, oli, dan berbagai komponen lainnya yang masih menggunakan bahan baku impor. Akibatnya, biaya operasional bentor menjadi lebih tinggi.

Namun, di sisi lain, kemampuan masyarakat untuk membayar ongkos transportasi juga terbatas sehingga kenaikan biaya tidak selalu dapat dibebankan kepada penumpang.

“Pendapatan tukang bentor bisa berkurang karena biaya operasional meningkat, sementara tarif angkutan sulit dinaikkan mengikuti kenaikan biaya tersebut,” jelas Fadly.

Fadly menegaskan bahwa kenaikan kurs dolar bukan hanya persoalan ekonomi makro, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat akar rumput. Karena itu, ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk melindungi kelompok rentan dari dampak gejolak ekonomi global.

Ia mendorong penguatan subsidi yang tepat sasaran, stabilisasi harga kebutuhan produksi, serta peningkatan kemandirian sektor pertanian dan perikanan agar petani, nelayan, dan tukang bentor tetap mampu mempertahankan penghidupan mereka di tengah ketidakpastian ekonomi.

“Pemerintah perlu memastikan masyarakat kecil tidak menjadi pihak yang paling terdampak akibat gejolak ekonomi global. Dukungan yang tepat akan membantu mereka tetap produktif dan menjaga stabilitas ekonomi daerah,” tutupnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA
x