
SINARSORE.ID, POLMAN – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh setiap tanggal 2 Mei menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali makna pendidikan yang sesungguhnya. Tanggal ini tidak lepas dari sejarah perjuangan Ki Hajar Dewantara, pelopor pendidikan nasional yang menekankan bahwa pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia.

Pendidikan sejatinya tidak hanya berkutat pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter dan moralitas. Dalam perkembangannya, dunia pendidikan telah melahirkan banyak individu berprestasi. Namun demikian, masih terdapat berbagai tantangan yang dihadapi, termasuk praktik diskriminasi serta kurangnya penekanan pada nilai-nilai etika.
Melalui momentum Hardiknas ini, diharapkan seluruh pemangku kepentingan dapat memahami substansi pendidikan secara utuh, yakni terciptanya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kematangan moral.
Wakil Ketua Dewan Pendidikan Polewali Mandar (Polman), Herman Kadir menegaskan, pentingnya menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembangunan daerah. Ia menyebut bahwa pendidikan moral harus menjadi fondasi dalam sistem pendidikan.

“Banyak orang yang cerdas secara akademik, namun belum tentu mampu menempatkan etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, pendidikan moral harus lebih diutamakan,” ujar Herman Kadir, yang juga merupakan tenaga ahli Gubernur Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).
Pria yang akrab disapa Herpol itu menambahkan, momentum Hardiknas diharapkan menjadi titik balik untuk memperkuat arah pendidikan di Indonesia. Ia menekankan pentingnya melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak dan integritas yang tinggi, khususnya di Provinsi Sulbar.
“Momentum ini harus kita jadikan sebagai langkah bersama untuk memperbaiki kualitas pendidikan, agar mampu mencetak generasi yang berkarakter dan berdaya saing,” tutupnya.

Tidak ada komentar