x

18 Tahun Mencari Wastra, Dian Erra Kumalasari Angkat Tenun Sulawesi Barat ke Panggung Dunia

waktu baca 3 menit
Jumat, 17 Apr 2026 22:41 20 Redaksi

SINARSORE.ID, MAMUJU – Founder Oerip Indonesia, Dian Erra Kumalasari membagikan kisah perjalanannya selama hampir 18 tahun berkeliling Indonesia dalam mencari dan mengangkat kekayaan wastra Nusantara. Perjalanan panjang tersebut akhirnya menjadikan wastra bukan sekadar ketertarikan, tetapi jalan hidup yang ia dedikasikan sepenuhnya.

Dalam kunjungannya ke Sulawesi Barat, Dian Oerip mengungkapkan kekagumannya terhadap potensi besar kain tenun daerah tersebut. Ia menyebutkan bahwa setiap wilayah di Sulawesi Barat memiliki kekhasan wastra masing-masing.

“Ada Sekomandi dengan tenun ikatnya, Polewali Mandar dengan sarung Mandarnya, dan Mamasa dengan ciri khasnya. Ini kekayaan luar biasa yang harus kita jaga dan kembangkan,” ujar Dian Oerip pada pembukaan Event Jiwa Wastra Sulawesi Barat, Jumat, 17 April 2026.

Perjalanan Dian Oerip di Sulawesi Barat dimulai pada 2022 bersama rekannya, Abdi Latif seorang pemuda asal Sulawesi Barat, di tengah situasi pandemi COVID-19. Saat itu, ia menemukan kondisi memprihatinkan di Kalumpang, di mana para penenun tidak mampu menjual hasil karya mereka selama dua tahun.

“Kain-kain menumpuk tanpa satu pun terjual. Itu yang menggerakkan hati saya, bahwa mereka harus dibantu,” katanya.

Melalui inisiatif live shopping di Instagram Dian Oerip Indonesia, ia berhasil membantu memasarkan kain-kain tersebut. Dalam satu jam, penjualan mencapai omzet hingga Rp300 juta dan seluruh produk habis terjual.

Namun perjuangan tersebut tidak mudah. Akses menuju lokasi penenun sangat ekstrem, bahkan kendaraan yang mereka tumpangi sempat terbalik. Meski demikian, bersama tim Sisi Sunyi Nusantara, mereka tetap melanjutkan misi memperkenalkan wastra Sulawesi Barat.

Perjalanan berlanjut ke Mamasa, di mana Dian melihat potensi besar yang belum tergarap, khususnya penggunaan pewarna alami. Ia mendorong para penenun untuk kembali menghidupkan teknik lama yang sempat hilang selama puluhan tahun.

“Hampir 50 tahun lalu pewarna alam sudah ada. Artinya ini bukan hal baru, hanya perlu kita hidupkan kembali,” jelas Dian Oerip.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Kain-kain dari Mamasa dan Polewali Mandar mendapat respons luar biasa saat dipasarkan, bahkan banyak pembeli rela menunggu hingga dua bulan untuk proses produksi.

Menurut Dian Oerip, hal ini membuktikan bahwa wastra Sulawesi Barat memiliki pasar yang luas, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional. Kain-kain tersebut kini telah dipromosikan hingga ke Jepang, Thailand, Eropa, bahkan dipasarkan melalui distributor di Belanda.

Ia juga mengungkapkan kebanggaannya saat memperkenalkan tenun Sekomandi di Universitas Nanterre Paris, yang merupakan kampus seni terkemuka. Para mahasiswa dan akademisi di sana terpukau dengan filosofi motif dan keindahan warna alami kain tersebut.

Saat ini, Dian Oerip berada di Sulawesi Barat menghadiri event “Jiwa Wastra” yang digelar di Kabupaten Mamuju. Dalam acara tersebut, ia berencana memberikan penghormatan khusus kepada para penenun.

“Kita ingin mengangkat para penenun, mendandani mereka, dan menunjukkan bahwa mereka adalah bagian penting dari budaya kita,” pungkasnya.

Selain itu, kegiatan live shopping kembali dilakukan dan berhasil mencatat omzet Rp99 juta dalam waktu satu setengah jam. Dian Oerip menegaskan bahwa setiap kegiatan promosi wastra harus memberikan dampak nyata bagi para penenun.

“Bukan sekadar event atau fashion show. Yang paling penting adalah bagaimana ekonomi para penenun bisa terus berputar,” ujar Dian Oerip.

Menutup pernyataannya, Dian Oerip menyampaikan rasa bangganya terhadap para penenun Sulawesi Barat yang dinilai memiliki potensi besar untuk terus berkembang.

“Saya bangga terhadap penenun Sulawesi Barat. Mereka punya masa depan,” tutupnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Unggulan

LAINNYA
x